Mengabaikan Value ON TIME, tetapi…
![]() |
| Melangkah bersama tim menuju kesuksesan |
Selasa, Oktober 11, 2011 |
Memulai Hari Ala Jack Canfield
![]() |
| Memulai hari dengan sebuah kepastian |
Sabtu, Oktober 01, 2011 |
Optimis Untuk Menjemput Kemenangan
Beberapa video yang saya sematkan ke dalam artikel ini memiliki makna. Sebelum membahas lebih jauh, silahkan Anda melihat beberapa video yang saya dapat dari youtube.
Kamis, September 29, 2011 |
Beasiswa dan Keluarga Baruku
| Mimpiku untuk mendapat beasiswa perlahan jadi nyata |
Selasa, September 27, 2011 |
Tata Ruang Parama Shanti
![]() |
| Ilustrasi Perdamaian |
Senin, September 26, 2011 |
Kisah Pencari Kayu Bakar
Alkisah, di sebuah desa di pinggiran hutan, ada tiga anak muda yang pekerjaan sehari-harinya mencari kayu bakar di hutan. Potongan kayu-kayu kecil yang ada di hutan itu dikumpulkan untuk dijual ke desa lain.Hasilnya, digunakan untuk membeli kebutuhan hidup mereka dan keluarganya.
Suatu hari, ketika sedang mencari kayu bakar, ketiganya menemukan sebuah kotaknya yang aneh. Ketika dibuka, mereka sangat terkejut! Rupanya di dalam kotak itu terdapat begitu banyak perhiasan yang terbuat dari emas. Lalu mereka bertiga berembuk dan keputusannya adalah perhiasan yang mereka temukan itu akan dibagi tiga sama rata.
Namun sebelum perhiasan itu dibagi, ketiga pemuda itu sepakat untuk makan siang terlebih dahulu. Lalu pemuda yang usianya paling muda diminta mengambil sebatang emas dan pergi ke desa terdekat untuk membeli makanan yang paling enak.
Ketika dia pergi meninggalkan teman-temannya, kedua temannya menyusun rencana untuk membunuhnya agar perhiasan itu bisa dibagi untuk berdua saja; dengan begitu masing-masing akan mendapatkan bagian lebih banyak.
Sewaktu pemuda yang berangkat pergi untuk membeli makanan, tiba-tiba dia juga terpikir suatu pikiran negatif! Dia berpikir, "Jika makanan yang saya beli ini diberi racun, kedua temanku pasti akan meninggal setelah memakannya. Dengan demikian perhiasan itu akan menjadi milikku sepenuhnya!" Maka, setelah membeli makanan, dia lalu mampir ke sebuah kedai yang menjual racun serangga dan diam-diam menaburkannya pada makanan yang baru dibelinya itu. Kemudian, dia bergegas kembali ke hutan.
Ketika sampai di tempat perhiasan itu ditemukan, tanpa disangkanya, kedua temannya ini langsung melampiaskan niatnya untuk membunuh, dan pemuda malang itu pun meninggal. Jenazahnya kemudian disingkirkan, dibuang di sebuah semak-semak yang lain. Puas karena niatnya terlaksana, serta merasa sangat lapar, kedua pemuda itu sepakat untuk menikmati makanan yang tadi dibeli oleh temannya. Dengan rakus, mereka malahapnya sampai habis dan akhirnya meninggal karena keracunan.
Singkat kata, ketiga pemuda ini tewas karena pikiran negatif yang mereka pikirkan.
Pembaca yang budiman, jika kita berpikiran negatif pada seseorang, tentu ada orang lain yang juga akan berpikiran negatif pada diri kita. Inilah hukum timbal-balik; memang tidak kelihatan, tetapi bisa terjadi kapan saja).
Pikiran negatif yang dikembangkan tidaklah membawa kebaikan pada diri kita; sebaliknya justru akan membawa kehancuran bagi diri sendiri. Olah karena itu, berpikirlah positif terhadap orang lain, agar ada orang lain yang berpikiran positif terhadap diri kita. Jangan mudah untuk menuduh, menghakimi, dan menilai seseorang sebelum kita mengetahui lebih dekat. Lebih baik kembangkan pikiran netral, yaitu lihatlah dahulu, dengarkan, dan kemudian baru memberikan respons. Ini lebih tepat.
Salam Bahagia dan Sejahtera!
Pelatih dan Konsultan Citra Diri Sukses
Penulis buku "Untuk Apa Hidup Susah"
HP: 0813 - 64808061or0857 - 653 - 64838
Email: Soe_hartono@hotmail.com
Blog: www.soegiantohartono.blogspot.com
Sumber : andriewongso.com
Senin, Agustus 01, 2011 |
Public Speaking Itu Penting
Bagi Anda yang masih berstatus sebagai pelajar pasti sering mendapatkan tugas presentasi di depan kelas. Ketika itu, Anda mungkin meremehkan gaya presentasi Anda di depan kelas. Tapi tahukah Anda, ternyata keahlian public speaking sangatlah penting untuk menunjang karir. Berikut ini alasannya.
- 18.000 Kata Sehari Terucap
- Sadarkah Anda bahwa Anda Mengucapkan 18.000 kata setiap hari dalam keadaan normal. 85% dari kata yang Anda keluarkan merupakan kata-kata yang akan sangat berpengaruh terhadap kesuksesan Hidup Anda.
- Berbicara Kunci Kesuksesan
- Sadarkah Anda bahwa Apa yang Anda Ucapkan akan membentuk kepribadian Anda. Bagaimana Anda berbicara, akan menentukan kesempatan Anda untuk meraih simpati, mendapatkan teman, relasi, peluang bisnis, hingga menemukan Pasangan Hidup. Berbicara merupakan bentuk komunikasi yang paling esensial. Berbicara merupakan Kunci Sukses Kehidupan!
- Tuntutan Jabatan/Kedudukan
- Semakin tinggi jabatan atau kedudukan Anda semakin banyak Anda dituntut untuk Berbicara di Depan Umum. Semakin Banyak pula orang menilai Anda dari apa yang Anda Sampaikan dan Bagaimana Anda menyampaikannya.
- Anda Melakukannya Setiap Hari
- Setiap hari Anda pasti melakukan pembicaraan di depan umum. Baik di depan teman, rekan kerja maupun saudara. Dalam situasi rapat, presentasi, pidato, sambutan, mengutarakan pendapat bahkan diskusi dengan keluarga. Public Speaking Ada di setiap Lini Kehidupan Manusia.
- Membuat Anda Terkenal
- Public Speaking merupakan Cara Paling Mudah, Aman, Hemat dan Efektif untuk semakin di kenal oleh Atasan Anda maupun Lingkungan Anda. Berbicaralah dengan elegan pada setiap kesempatan, maka Anda akan cepat terkenal.
- Kekuatan Tiga V
- Public Speaking akan melatih Anda menggunakan Kekuatan Verbal, Vokal dan Visual yang merupakan tiga elemen penting berbicara. Keselarasan ketiganya dalam Public Speaking akan membuat kesuksesan ada di tangan Anda.
- Nilai Tambah Diri
- Saat ini CEO perusahaan-perusahaan besar diharuskan menguasai kemampuan public speaking. Mereka bukan dituntut sekedar memberikan pemikiran yang baik bagi perusahaannya, namun lebih dari itu, mereka diharapkan juga mampu “menjual” perusahaannya kepada publik.
Sumber : tantowi-yahya.com
Sabtu, Juni 04, 2011 |
Cerita Sang Pemotong Rambut

Wah, tak terasa sudah lama saya tidak menulis di blog ini. Ada sedikit motivasi yang saya dapatkan ketika sedang potong rambut di sebuah barber shop di Kota Malang.
Namanya adalah Ryan. Memang sih, saya tidak kenalan dengannya. Tapi dia sempat menyodorkan brosur produk yang ia jual sembari memperlihatkan namanya + nomor HP yang distempel. Oke lah, kita buka cerita.
Sebenarnya, hidupnya serba pas-pasan sewaktu kecil. Ryan adalah seorang lulusan SD. Mungkin Anda heran, kenapa orang SD masih bisa bekerja di jaman sekarang ini? Jawabannya adalah mau bekerja keras. Karakter pekerja kerasnya itu memang terbentuk sejak kecil. Kondisi serba pas-pasan membuatnya banting tulang membantu keuangan keluarga. Ia juga berjualan es lilin dan pisang goreng keliling kampung di dekat rumahnya.
Sewaktu remaja, ia ikut bekerja di usaha kakaknya. Usaha di bidang meubel di daerah Bali. Karena giatnya dalam bekerja, ia dipercaya menjadi kasir dan bahkan dibiayai oleh kakaknya untuk kursus Bahasa Inggris dan Komputer. Sungguh hebat. Meskipun lulusan SD, ia berani untuk unjuk diri dan melanjutkan menuntut ilmu yang menurut saya memang diperlukan saat ini.
Ketika menjadi kasir itu lah, ia bertemu dengan klien kakaknya yang kebetulan turis asing berasal dari Kanada. Ia datang ke Bali untuk berkunjung bersama keluarganya. Ryan mendengarkan keluhan bule tersebut tentang kualitas tukang potong rambut di Bali yang masih rendah. Ryan yang pernah sesekali dimintai tolong untuk memotong rambut temannya memberanikan diri untuk menawarkan jasa potong rambut pada bule tersebut dan keluarganya.
Tebak, apa pengalaman terhebatnya dalam memotong rambut? Yang dia ceritakan, ia memotong rambut bule tersebut sekeluarga di Hotel. Ya, mana ada seorang tukang potong rambut amatir yang sampai dipanggil untuk memotong rambut di Hotel? Itulah awal dari kesuksesannya kini.
Singkat cerita, bule tersebut puas dengan hasil potongan rambut Ryan. Bule itu pun bertanya kenapa Ryan tidak mengembangkan bakatnya di bidang tata rias. Ryan yang seorang pemuda dengan gaji pas-pasan pun jujur bahwa ia tidak punya uang. Ternyata bule itu baik hati dan mau membiayai Ryan untuk sekolah tata rias di Jakarta.
Ryan pun mau. Ia akhirnya bersekolah tata rias di Jakarta dengan biaya dari bule tersebut. Ia juga bercerita tentang prestasinya selama bersekolah di Jakarta tersebut. Menurut saya, prestasinya sungguh mengagumkan.
Kini, ia adalah seorang tukang potong rambut yang hasilnya memang memuaskan. Saya pun ketika berkunjung ke barber shop tersebut selalu ingin dipotong rambut olehnya.
O iya, Dia berencana untuk membuka sebuah barber shop di Kota Malang. Bagaimana bisa seorang lulusan SD membuka lapangan pekerjaan? Sungguh niat yang mulia kan?
Ternyata kesuksesan itu bukan diukur dari jenjang pendidikan yang bisa ia tempuh. Kesuksesan yang sebenarnya mutlak didapatkan dari setiap keringat yang dicucurkan dalam berusaha. Terlihat sekali usahanya dalam memotong rambut saya. 30 menit ia habiskan untuk memotong rambut sambil bercerita tentang kisah hidupnya.
Sungguh inspiratif dan semoga pembaca bisa meneladani kekerasan hatinya untuk mengubah nasib.
Sukses untuk kita semua.
Anom Harya
Rabu, Mei 04, 2011 |
Menerima Pendapat Orang Lain

Pernahkah Anda beradu argumen dengan seseorang yang terus mempertahankan pendapatnya meskipun pendapat tersebut sudah tidak relevan? Jika iya, ada baiknya teman Anda membaca cerita berikut ini.
Ada seorang pedagang kaya yang tinggal di suatu desa. Meski kaya, kebahagiaannya sedikit terambil akibat istrinya yang baru saja meninggal. Tinggal anak semata-wayangnya yang menjadi tumpuan kebahagiaan saat ini.
Suatu hari, pedagang itu pergi ke kota untuk menghadiri sebuah acara. Tanpa diduga sebelumnya, para bandit menyerang desa pedagang kaya tersebut. Semua rumah dibakar, harta benda dijarah, dan tentunya pemudanya dijadikan budak tanpa terkecuali anak pedagang kaya tersebut.
Ketika pedagang kaya pulang, alangkah kagetnya Ia mengetahui desa dan terutama anaknya tak ada kabar.
Mendekati puing-puing rumahnya yang sudah hangus, ia mendapati abu di sebelah mainan anaknya. Ia menangis, tak rela anaknya meninggal dengan cara demikian.
Tahun demi tahun berlalu, sang pedagang kaya memulai kehidupannya dengan normal kembali meski hanya sendirian. Anak pedagang kaya yang ditawan oleh bandit berhasil kabur dan pulang ke rumahnya. Ketika sampai di rumah, sang anak mengetuk pintu dan berkata, "Ayah, ini aku. Aku sudah pulang. Buka pintunya Ayah!"
Sang Pedagang kaya tidak percaya,"Siapa sih yang membangunkanku di pagi buta seperti ini?" .
Sekali lagi sang Anak memanggil ayahnya sambil mengetuk pintu, "Ayah, ini aku. Aku sudah pulang. Buka pintunya Ayah!"
Pedagang kaya pun jengkel dan menghardik pemuda tersebut tanpa terbangun dari tempat tidurnya, "Hei anak usil. Kamu tidak kapok ya berbuat iseng. Anak saya sudah mati. Pergi sana!"
Sang Pedagang kaya memang sering dikerjai oleh anak kecil yang ada di sekitarnya. Namun, meskipun demikian Ia telah membuang kesempatan untuk bertemu anaknya yang ternyata masih hidup.
Nah sahabat, dari cerita ini bisa kita simpulkan bahwa mempertahankan pendapat belum tentu tindakan yang tepat. Semua hal selalu berkembang dan menuntut adanya perubahan. Jika Anda tetap mempertahankan pendapat pribadi tanpa mengedepankan sebuah fakta, niscaya hal tersebut akan merugikan Anda sendiri dan bahkan orang lain.
Maka dari itu, mulai sekarang bukalah hati untuk mau menerima pendapat orang lain. Pendapat orang lain yang telah dikemukakan jangan langsung Anda telan begitu saja. Melainkan olah-lah terlebih dahulu makna yang tersirat di dalamnya. Jika memang bisa dipadukan dengan pendapat awal Anda dan bisa menjadi lebih baik, kenapa tidak dipadukan saja. Hal itulah yang bisa membuat diri Anda semakin maju dalam berpikir.
Semoga sukses dalam menerima pendapat orang lain. Mari memajukan diri agar tercipta perubahan dalam kehidupan ini.
Selasa, April 26, 2011 |
Ibuku, Kartini Masa Kini
Pernahkah Anda memiliki sesosok Kartini di kehidupan Anda? Saya pernah bertemu dengannya. Bahkan saya pun bangga menjadi bagian dari kehidupannya. Siapakah dia?
Sosok mirip Kartini itu adalah ibuku. Ibuku adalah Kartini masa kini. Mengapa aku bisa menyebut beliau sebagai seorang Kartini dalam hidupku? Apa jasa beliau sehingga aku bisa menyebutnya sebagai seorang Kartini?
Sebelum kita membahas lebih jauh, ada perlunya kita mengenal seorang Kartini yang lahir di Jepara. Nama aslinya adalah Raden Ajeng Kartini. Ia adalah anak seorang bangsawan yang masih taat pada adat istiadat pada saat itu. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan.
Kartini kecil sangat sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena takut dianggap anak durhaka. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian dibacanya di taman rumah dengan ditemani Simbok (pembantunya).
Akhirnya membaca menjadi kegemarannya, tiada hari tanpa membaca. Semua buku, termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dan surat kabar, ia selalu menanyakan kepada Bapaknya. Melalui buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia).
Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda. Tak berapa lama ia menulis surat pada Mr.J.H Abendanon. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda.
Beasiswa yang didapatkannya tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh orangtuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Setelah menikah ia ikut suaminya ke daerah Rembang. Suaminya mengerti dan ikut mendukung Kartini untuk mendirikan sekolah wanita.
Berkat kegigihannya Kartini berhasil mendirikan Sekolah Wanita di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Ketenarannya tidak membuat Kartini menjadi sombong, ia tetap santun, menghormati keluarga dan siapa saja, tidak membedakan antara yang miskin dan kaya.
Dari gambaran kehidupan Kartini saat itu, aku bisa menyimpulkan bahwa ibuku memiliki darah seorang Kartini. Beliau adalah seorang ibu yang tak kenal menyerah dalam memperjuangkan hidup keluarga. Ayahku yang seorang abdi negara (baca : polisi) merasa gajinya kurang untuk menghidupi 4 anaknya yang mulai beranjak remaja dan butuh pendidikan semakin tinggi.
Aku teringat perkataan ibuku, "Bersyukurlah kamu nak, teman ayahmu yang setingkat dengannya memiliki banyak hutang. Ia tak bisa menyekolahkan anaknya seperti ayahmu menyekolahkan dirimu hingga seperti ini." Aku memang hanya seorang mahasiswa yang sedang menempuh bangku kuliah Strata I, namun tak pernah kurasakan kesulitan sekalipun penghasilan ayahku pas-pasan.
Ada banyak cerita tentang polisi di jalanan. Aku tak peduli itu. Ibuku selalu mengingatkan ayahku untuk menghasilkan uang bukan dengan cara melakukan pungutan liar. Aku pun terdidik olehnya untuk selalu menghargai setiap sen uang yang dikeluarkan oleh orang tuaku. Hingga kini, syukurlah aku bisa menikmati bangku kuliah meski kebanyakan teman-temanku jenuh akan tugas yang mengalir di dalamnya.
O iya, perlu diketahui pula bahwa ibuku adalah seorang pengusaha kecil. Beliau membuka usaha pembuatan kue dan makanan di rumah. Aku yang kini berada di luar kota, selalu terharu melihat perjuangan nyata ibuku dalam mencari uang ketika aku berada di rumah. Betapa tidak manusiawi-nya aku ketika membiarkan melihat ibuku bangun subuh dan tidur menjelang subuh pula dalam sehari.
Beliau selalu bercerita di keesokan harinya, tadi malam hanya tidur beberapa jam saja. Entahlah, kenapa selalu cerita itu yang kudengar dari ibu setiap hari. Sepertinya ibu tak pernah bosan untuk menghasilkan uang bagiku dan adik-adikku.
Aku harus bisa bertahan dan menunjukkan bahwa ibuku adalah Kartini bagiku. Bagaimana dengan Anda? Adakah seorang Kartini yang bersinggasana dalam kehidupan Anda saat ini? Jika Anda telah menemukannya, jagalah ia. Aku yakin ibuku sedang membuat kue ketika aku menulis artikel ini. Ibu, aku ingin pulang dan menemuimu malam ini juga. Akan kutemani dirimu menghabiskan malam ini untuk menghasilkan uang.
Salam dari anakmu,
Anom Harya
Kamis, April 21, 2011 |
Jangan Serahkan Kemerdekaan Hidupmu

Kebanyakan orang mudah iri pada orang lain yang mendapatkan sesuatu dengan mudah. Bagaimana dengan Anda? Adakah sifat demikian yang mendarah daging dalam hidup Anda? Mari kita simak cerita berikut untuk memahami arti sebuah kemerdekaan hidup.
Dalam sebuah kehidupan terdapat sepasang sahabat, elang hitam dan elang putih. Mereka berdua selalu bersamaan dalam berbagai kegiatan. Terbang bersama, makan bersama, hingga tinggal pun selalu di tempat yang sama. Suatu hari, mereka membuat rencana terbang ke suatu tempat untuk mencari makanan. Di perjalanan mereka bertemu dengan sekumpulan sapi yang sedang makan di ladang.
Kemudian elang putih mengajak elang hitam untuk mampir kesana, "Hitam, di bawah sana sepertinya ada sesuatu yang bisa kita makan. Kenapa kita tidak turun saja sebentar?" Elang hitam menyetujuinya dan kemudian mereka bersama-sama turun ke ladang tersebut.
Sesampainya di ladang, mereka bertemu seekor sapi yang sangat ramah. Elang putih membuka pembicaraan dengan meminta ijin ke sapi tersebut, "Hai sapi, sepertinya di tempatmu ada banyak makanan. Bolehkah aku minta sedikit?" Sapi pun menerima mereka dan menjawab, "Oh, silahkan elang. Kami tidak keberatan."
Kedua elang bersahabat itu heran kenapa ada yang mau membagikan makanannya pada binatang asing. Padahal mereka berdua sangat protektif terhadap makanan yang mereka peroleh. Tak pernah sekalipun mereka membagi makanan dengan binatang lain.
Saking herannya, elang hitam bertanya pada sapi, "Kenapa kamu mau berbagi makanan dengan kami? Bukankah kami asing di bagimu?" Sapi pun menjawab pertanyaan elang hitam, "Tidak masalah. Kami masih punya banyak jagung disini. Jika kamu ingin memintanya, kami sangat terbuka sekali. Silahkan saja langsung mengambil sepuas hati."
Kedua elang bersahabat itu kemudian makan jagung yang ada di ladang. Sambil makan, elang putih bertanya-tanya pada sapi tadi,"Eh sapi, enak sekali kamu punya makanan sebanyak ini. Apa rahasianya?" Sapi tidak terkejut dengan pertanyaan seperti ini. Mungkin elang putih adalah penanya kesekian yang menanyakan pertanyaan yang sama. Sapi pun menjawab, "Kami sudah biasa hidup seperti ini. Jagung melimpah karena petani yang menyayangi kami. Dan yang perlu kamu tahu, kami tak perlu bekerja untuk mendapatkan semua ini."
Elang putih terkesima dengan jawaban sapi dan ia berdiskusi dengan elang hitam, "Hitam, kenapa kita tidak tinggal disini saja? Bukankah kita bisa makan sepuasnya disini?" Elang hitam menjawab, "Sepertinya aku kurang tertarik dengan pikiranmu. Aku lebih suka menjadi elang yang bebas meski sulit untuk mencari makan."
Elang putih kembali bertanya pada elang hitam, "Hitam, seandainya aku memilih tinggal disini apa kamu tidak keberatan?" Elang hitam dengan berat menjawab, "Sepertinya tidak, putih. Aku menghargai pilihanmu. Tapi aku juga punya pilihan. Aku lebih memilih menjadi elang yang bebas."
Tekad elang putih sudah bulat karena elang hitam menyetujui permintaannya tersebut. Setelah elang hitam makan cukup banyak, ia berpamitan pada elang putih, "Putih, aku pamit pergi dulu. Kamu baik-baik ya disini."
Elang hitam pergi dan mulailah kehidupan elang putih di ladang itu. Setelah beberapa bulan, tubuh elang putih semakin gemuk. Namun ia sangat bahagia dengan kegemukannya tersebut karena tak harus susah-susah mencari makanan.
Suatu hari, pemilik ladang ingin memakan daging elang putih dan elang putih pun mengetahui rencana itu. Ia berusaha untuk terbang tapi tidak bisa karena terlalu gemuk. Akhirnya hidup elang putih pun berakhir menjadi santapan Sang petani.
Sahabat, terkadang kita iri dengan kehidupan tetangga yang mudah mendapatkan sesuatu. Apa yang tetangga miliki, terkadang kita juga ingin memilikinya. Namun tahukah Anda dibalik semua itu sebenarnya adalah kemerdekaan hidup kita yang dijajah. Kita diberikan kebebasan oleh Tuhan untuk menjadi diri sendiri tapi pudar karena sifat ingin menjadi seperti orang lain.
Dari cerita ini bisa kita ambil pesan bahwa menjadi diri sendiri lebih baik daripada harus hidup sebagai orang lain. Maka dari itu, tetapkan jalan Anda dan jangan mudah berpaling darinya meskipun itu tidak enak. Toh, yang tidak enak itu sebenarnya adalah kehidupan paling ideal bagi Anda kan?
Selamat menjalani hari-hari menjadi diri sendiri.
Salam sukses untuk kita semua.
Kamis, April 21, 2011 |
Bekerja Keras Tanpa Memandang Hasil
Hidup mewah dan serba berlebihan adalah cita-cita orang ketika dirinya memulai suatu usaha. Pernahkah Anda berpikir demikian? Jika ya, simak cerita berikut untuk membuka pikiran Anda
Pada suatu hari, bertemulah seorang profesor dengan seorang nelayan di pantai. Sang profesor itu membuka pembicaraan dan Sang nelayan pun tertarik untuk berbincang dengannya.
Profesor : Halo pak, baru pulang dari melaut ya?
Nelayan : Iya pak. Ini hasil tangkapan saya dari tadi subuh.
Profesor : Wah, hasilnya lumayan banyak ya?
Nelayan : Syukur lah pak, yang penting bisa untuk makan sekeluarga selama sehari ini.
Profesor : Nanti setelah ini mau kemana pak?
Nelayan : Saya mau makan siang bersama keluarga. Setelah itu tidur sebentar. Bangun tidur saya mau bermain bersama anak-anak yang baru pulang dari sekolah. Kemudian menjelang malam saya makan malam bersama keluarga. Setelah itu, saya pergi ke warung untuk ngobrol bersama teman-teman yang lain.
Profesor terkagum mendengar padatnya kegiatan nelayan itu. Lalu Ia pun menyambung pembicaraan tersebut.
Sang nelayan penasaran dengan perkataan yang baru saja dikatakan profesor.
Profesor : Andai Bapak melaut sampai sore, saya yakin ikan yang Bapak dapat bisa 3x lipat dari hasil sekarang ini. Jika Bapak konsisten, 9 bulan kemudian Bapak bisa membeli perahu yang ukurannya 4x lebih besar dari perahu milik Bapak sekarang. Jika Bapak terus bekerja seperti itu, 5 tahun kemudian Bapak bisa jadi juragan kaya dan menggaji banyak orang. Nanti kalau usaha Bapak meningkat, Bapak bisa pindahkan kantor ke ibukota. Saya yakin bapak bisa jadi jutawan. Percayalah Pak, Saya adalah salah satu profesor sekolah bisnis di ibukota dan sudah sering menangani hal seperti ini.
Sang nelayan yang mendengarkan nasihat profesor kemudian bertanya pada profesor tersebut
Profesor terdiam karena Ia tidak memikirkan idenya sampai sejauh itu. Dengan cepat Ia mendapat jawabannya.
Profesor : Kalau uang Bapak banyak, nanti kan bisa makan enak bersama keluarga. Bapak bisa santai-santai sambil tidur siang. Bapak bisa bermain bersama anak-anak setelah pulang sekolah. Kemudian, di malam hari Bapak bisa bercengkrama dengan teman-teman di warung.
Nelayan : Sekarang saya kan sudah bisa seperti itu pak?
Sang profesor pun kehabisan kata. Dan pembicaraan terhenti sampai disitu.
Sahabat, terkadang kita memikirkan tujuan bekerja keras untuk mendapatkan harta yang berlebih. Namun, tahukah Anda jika sebenarnya kebahagiaan itu bukan sesuatu yang bisa dinilai dari harta?
Bekerja keras memang perlu, tapi jangan memandang sebesar apa hasil yang bisa didapatkan darinya. Hidup yang sebenarnya adalah hari ini. Dan jika Anda benar-benar memanfaatkan hari ini, maka hari esok menjadi milik Anda.
Kesuksesan adalah sesuatu yang abstrak. Hal nyata-nya adalah hasil dari kerja keras tersebut.
Semoga selalu diberkati Tuhan untuk senantiasa bekerja keras.
Terima kasih.
Anom Harya.
Selasa, April 19, 2011 |
Motivasi - Buku Membawaku Keliling China
Liburan adalah agenda keluarga kami dua kali setahun. Sebab liburan dan melancong membangun kebersamaan kami. Membantu melepas kepenatan kerja. Menambah wawasan anak-anak, tentang banyak tempat dan kebudayaan. Julianto Simanjuntak bersama keluarga
Suatu hari di tahun 2008 si bungsu kami bertanya : “Pa, kapan ya bisa bawa Moze liburan ke China.”. Saya menjawab: “Nak, bersabar ya kalau ada rezeki kita kesana.”
Kami mendoakan keinginan Moze tersebut sambil minta dia kursus bahasa mandarin lebih dulu. Kami mencoba menabung sambil cari info biaya murah kesana.
Suatu hari saya kontak email dengan seorang pembaca buku kami. Bu Sandra namanya. Dia mengenal kami lewat buku “Seni Merayakan Hidup yang Sulit” (Gramedia, 2008). Karena Bu Sandra saya dengar sering ke China urusan bisnis, saya menanyakan apakah dia punya rumah di Beijing. Saya pikir, apabila ada yang meminjamkan rumah, biaya liburan ke China bisa lebih murah
Ibu Sandra balik tanya, “Kenapa Pak Julianto tidak ikut tur saja, supaya lebih enak buat anak-anak, supaya tidak repot.”. Lalu dia janji minta stafnya mencarikan info travel yang baik dan murah.
Suatu hari sekitar awal Agustus saya mengunjungi pameran travel & tur di Mal Puri. Ternyata ikut tur biayanya berat buat kami berempat. Sekitar 90 juta untuk tur 9 hari. Karena cukup mahal saya memutuskan tidak jadi liburan kesana tahun itu.
Namun pertengahan Agustus tiga minggu sebelum Idul Fitri, saya mendapat telpon dari sekretaris bu sandra. Dewi namanya.
“Pak Julianto, saya dewi sekretarisnya bu Sandra. Beliau menanyakan apakah bapak jadi pergi ke China.?”.
Saya menjawab singkat, ” O sory tidak jadi mbak Dewi…. kenapa mbak.?
Dewi berkata : “bu sandra menanyakan apakah bapak jadi tur ke china.”.
Saya menjawab: “mbak, tiket mahal buat kami tur berempat…mungkin lain kali deh.”
Dewi kemudian menjelaskan sesuatu yang tidak kami bayangkan dan pikirkan:
“ Pak Julianto, semua tiket dan biaya Tur akan dibayarkan bu Sandra, bapak sekeluarga tinggal berangkat saja. Kalau jadi, bapak mohon kirim semua persyaratannya. Nanti Dewi yang urus semuanya.”
Waw….saya terdiam sejenak. Dibayarin?? Tak terbayangkan…..Uang 90 juta bagi kami tidak sedikit. Saya kemudian menutup percakapan itu berkata:
” hmmm mbak, iya iya thank you mbak….oke oke, segera saya minta istri saya siapkan syarat syarat yang dibutuhakan…thx banget ya mbak.”
Singkat cerita, beberapa hari kemudian kami mendapat kabar dari agen travel, bahwa semua tiket kami sudah oke, dan kami diminta siap berangkat.
Kami benar-benar merasa surprise, bersukacita luar biasa. Siapa menyangka bahwa doa Moze akhirnya terkabul. Kamipun sekeluarga bisa melancong ke China dan Hongkong. Berkat perkenalan dengan seorang pembaca buku kami. Suatu hal yang tak pernah kami pikirkan, itu yang Allah sediakan.
Kami berangkat Selasa (7 September) pukul 18.35 dengan Malaysia Airlines. Penerbangan menyenangkan. Kami mendarat di Beijing pukul 06.20 tgl 8 September. Terminal Beijing sangat besar, modern, dan padat dengan manusia. Kami naik bis besar dan bagus, langsung ke Forbidden City.
Walaupun Beijing penuh apartemen, pemerintah setempat memperhatikan kebutuhan lokasi hijau warganya. Di seluruh Beijing ada dari 100 taman. Tiap orang membayar 100 yuan (元100) setahun sebagai iuran agar bisa masuk ke 35 taman. Selain itu di sana ada bisa gandeng (dua gerbong) dan bis yang jalan di atas rel listrik. Ongkos bis 元2 (元1 = Rp 1.340) sekali jalan. Kalau naik MRT hanya 50 sen. Jadi, walaupun jalan-jalan macet, tidak banyak orang punya mobil.
Selain itu orang juga naik sepeda. Kalau punya motor harus membayar pajak 元1.500/tahun. Pajak mobil dan pajak anjing juga sangat tinggi. Menurut guide kami, China memproduksi hampir semua keperluan masyarakat-nya, mulai kebutuhan pangan sampai mobil. Di Cina pabrik Volvo pun ada, Honda, Toyota, Chevrolet.
Sebagai turis, kami tentu hanya disuguhi bagian-bagian terbaik dari kota-kota yang kami kunjungi. Kami tidak ke kawasan kumuh, misalnya. Tapi di kota lain kami juga menjumpai tukang becak dan tunawisma yang tidur di bawah jembatan.
Masuk Forbidden City bayar (元60/orang). Ini adalah istana permaisuri kaisar. Luasnya 33 ha. Dari depan ke belakang sekitar 3 kilometer. Ada bagian yang rimbun, ada juga berupa lapangan terik. Tapi cuaca cukup bersahabat, berangin dan sejuk. Pada masa kekaisaran, penguasa China bebas mengambil siapa saja perempuan menjadi selir. Maka di istana ini ada 999 kamar untuk semua selir kaisar.
Forbidden City bersambungan langsung dengan Lapangan Tian An Men, tempat terjadi revolusi tahun 1989. Ini menjadi awal keterbukaan China pada perubahan zaman.
Hari itu banyak pengunjung berfoto-foto di depan gambar Mao Zhe Dong. Kami juga berfoto dalam grup.
Sekitar pukul 3 kami menuju tempat penjualan obat yang dikelola pemerintah China. Sebenarnya program ini tidak ada di brosur. Menurut mereka semua obat yang dijual di sana sudah ratusan tahun umurnya. Tapi sekarang dikelola secara modern.
Dari sana kami menonton pertunjukan Acrobatic Show yang tiketnya 元100. Pertunjukannya menakjubkan. Ada adu ketangkasan pakai topi, bola, semacam yoyo, dan ditutup dengan atraksi lima sepeda motor menderu-deru dalam sebuah bola raksasa, berdiameter (mungkin 9 meter). Ini benar-benar puncaknya. Luar biasa!
Hari kedua, kami mengunjungi Istana Musim Panas Permaisuri, Great Wall, The Summer Palace, melihat Olympic Stadium, dan makan malam di Peking Duck Dinner, restoran bebek Peking yang sudah berusia 350 tahun.
Hari ketiga, kami ke Shanghai. Mengunjungi Yu Garden. Ini adalah tempat permaisuri kaisar juga, dibangun 1843. Untuk mengelilingi “taman toko” seluas 33 hektar ini (tidak seluruhnya dilihat).
Selain Shanghai kami juga pergi ke Guilin dan Shenzen, lalu hari terakhir kami bermalam di Hongkong. Banyak sekali tempat wisata yang menarik dan mengesankan. Pemerintah China benar benar hebat mengelola parawisata negri itu.
Julianto Simanjuntak
Kisah di atas semakin menginspirasi saya untuk giat menulis guna mengisi waktu luang. Bagaimana dengan Anda? Masihkah ada waktu yang ingin terbuang percuma?
Sumber : kompasiana
Rabu, April 13, 2011 |
Jangan Menunda Pekerjaan
Menunda pekerjaan adalah suatu penyakit yang paling parah. Saya pun mengalami hal ini. Tapi ada solusi mudah yang berdampak besar pada perubahan diri ini. Berikut adalah beberapa kata Andrie Wongso sebagai motivator no.1 di Indonesia.
Suka menunda bukanlah penyakit keturunan
Suka menunda adalah penyakit mental
Hasil dari kebiasaan yang sengaja kita biarkan berjalan
Jika kita ingin meraih sukses yang lebih besar,
tidak ada cara yang paling efektif
Kita harus tegas dan keras pada diri sendiri
Untuk bebas dari penyakit menunda-nunda
Kata motivasi tersebut bisa pula diakses melalui video di bawah ini.
Kamis, April 07, 2011 |
Motivasi - Jangan Pernah Berkata Tidak Bisa
Lena Maria Klingvall terlahir di Stockholm Swedia, tanpa memiliki kedua lengan dan dengan kaki kiri yang lebih kecil dari ukuran normal. Walaupun dengan kondisi fisik seperti itu, kini ia mampu meraih lebih banyak prestasi dibandingkan dengan orang yang pada umumnya berfisik normal.
Orangtua Lena Maria sangat terkejut ketika mengetahui anak mereka terlahir tanpa tangan dan hanya memiliki satu kaki normal. Tetapi mereka tidaklah kecewa dan berputus asa, mereka yakin bahwa anak mereka itu berhak melakukan apapun, mereka membesarkannya dengan penuh kebanggaan dan kasih sayang. Mereka tidak malu untuk memperkenalkan anak mereka ke lingkungan tempat tinggal, dan teman-teman mereka. Banyak kerabat yang salut kepada keteguhan dan kegigihan mereka, bahkan memberikan semangat serta dukungan bagi mereka. Hal ini yang menjadikan Lena Maria tumbuh menjadi sosok yang mandiri, penuh keyakinan dan kepercayaan diri.
Berikut ini adalah sebuah video berisi perjalanan hidup seorang Lena Maria.
Dari perjalanan Lena Maria di atas bisa kita petik hikmahnya bahwa
Tidak ada sesuatu yang tidak bisa dilakukan jika kemauan dan usaha yang mendasari semua itu.
Senin, April 04, 2011 |
Artikel Motivasi - Orang Bijaksana
Apa kesan Anda, ketika seseorang berapi-api menyampaikan tentang apa yang sudah dia lakukan untuk orang lain? Dari pengalaman saya, justru citra diri orang itu semakin buruk dan lebih buruk lagi, kalau ternyata apa yang diucapkannya itu tidak benar. Saya kagum justru kepada seseorang yang tidak memamerkan jasanya, tetapi orang lain yang mengatakan jasa orang tersebut kepada kita. Mengapa demikian?
Pernah diceriterakan bahwa pada Perang Dunia I ada seorang serdadu Perancis muda yang mendapat luka berat. Lengannya terkena ledakan sedemikian parahnya sehingga harus diamputasi. Semua orang iba dan dan menyayangkan karena Dia adalah seorang muda yang sangat cakap. Dokter ahli bedah itu merasa amat sedih bahwa orang muda itu selanjutnya harus hidup sebagai orang cacat.
Setelah operasi selesai maka rekan-rekannya dan dokter ini menunggu di tepi tempat tidur, menunggu prajurit muda ini siuman dari biusnya, untuk menyampaikan berita yang buruk itu bila sudah menjadi sadar kembali.
Pada waktu pemuda itu membuka matanya, dokter itu berkata dengan hati-hati kepadanya, "Aku menyesal sekali untuk memberitahukan kepadamu bahwa engkau telah kehilangan lenganmu karena tidak bisa diselamatkan lagi."
"Dokter," kata pemuda itu, "Aku tidak kehilangan lenganku, karena aku telah memberikannya untuk negaraku."
Pelajaran yang kita dapatkan dari cerita ini adalah bahwa kebahagiaan akan kita miliki bila kita memberi dengan ikhlas, tanpa meminta imbalan.
Maka usulan saya, bersikaplah tulus dan ikhlas untuk setiap pemberian kita kepada negara, perusahaan atau seseorang, dan tidak berpikir kehilangan, dengan demikian hidup kita akan lebih bahagia.
Sumber :
Rabu, Maret 30, 2011 |
Artikel Motivasi - Garam Dalam Air
Alkisah, tampak seorang murid berwajah murung akhir-akhir ini. Ia mengerjakan segala sesuatu dengan gelisah dan tidak bersemangat, seakan banyak masalah yang ada di pikirannya. Sang guru yang memperhatikan murid tersebut, memanggil ke ruangannya dan berkata:
"Bapak perhatikan, kenapa kamu selalu murung anakku? Bukankah banyak hal indah di kehidupan ini? Ke mana perginya wajah ceria dan bersemangat kepunyaanmu dulu?"
"Guru, belakangan ini hidup saya sedang penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang tidak ada habis-habisnya. Serasa tak ada lagi sisa untuk kegembiraan," jawab si murid sambil tertunduk lesu.
Sambil tersenyum bijak sang guru berkata,"Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam di dapur. Bawalah kemari. Biar bapak coba perbaiki suasana hatimu itu."
Si murid pun bergegas melakukan permintaan gurunya sambil berharap dalam hati mudah-mudahan gurunya memberi jalan keluar bagi permasalahan hidupnya.
Setibanya di hadapan sang guru, "Ambil garamnya dan masukkan ke segelas air itu, kemudian aduk dan coba kamu minum."
Wajah si murid langsung meringis setelah meminum air asin tersebut.
"Bagaimana rasanya?" tanya sang guru dengan senyum lebar di bibirnya.
"Asin, tidak enak, dan perutku rasanya jadi mual," jawab si murid dengan wajah masih meringis.
Kemudian sang guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. Danau itu begitu indah, airnya bening karena sumber air alam yang selalu mengairi di situ.
"Ambil air garam dan garam yang tersisa dan tebarkan ke danau," perintah sang guru. Si murid dengan patuh memenuhi permintaan gurunya.
"Sekarang, coba kamu minum sedikit air danau itu". Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air di danau dan meminumnya. "Bagaimana rasanya?"
"Segar, segar sekali," kata si murid. "Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah sini."
"Terasakah rasa garam yang kamu tebarkan tadi?"
"Tidak, tidak sama sekali guru," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi.
"Nak, segala masalah dalam hidup ini sama seperti segenggam garam. Tidak kurang tidak lebih. Rasa 'asin' sama seperti masalah, kesulitan, penderitaan yang dialami setiap manusia, dan tidak ada manusia yang bebas dari permasalahan dan penderitaan. Benar kan?"
"Tetapi Nak, seberapa rasa 'asin' dari penderitaan yang dialami setiap manusia sesungguhnya tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Maka, jangan memiliki kesempitan hati seperti gelas tadi, tetapi jadikan hatimu menjadi sebesar danau sehingga semua kesulitanmu tidak akan mengganggu rasa di jiwamu dan kamu tetap bisa bergembira walaupun sedang dilanda masalah. Nah, mudah-mudahan penjelasan gurumu ini bisa memperbaiki suasana hatimu."
Netter yang Luar Biasa!!
Seorang filsuf besar pernah berkata, "Life is suffering. Hidup adalah penderitaan". Memang, kenyataan di kehidupan ini adalah, segala sesuatu yang tidak sesuai dengan selera kita, membuat kita menderita.
Kadar penderitaan, tentu setiap orang berbeda. Tergantung cara pandang dan keikhlasan kita dalam menyesuaikan dengan selera kita. Maka selayaknya kita harus terus belajar dan memperluas wawasan kebijaksanaan, agar jangan sampai masalah yang menguasai kita. Tetapi kitalah yang mengendalikan masalah. Sehingga, masalah yang datang bukan lagi dipandang sebagai penderitaan, tetapi bagian dari kehidupan yang harus kita jalani.
Salam sukses, luar biasa!!
Sumber : andriewongso
Selasa, Maret 29, 2011 |
Pemuda Terkaya di Asia (2010-2011)
Namanya Yoshikazu Tanaka, usianya baru 33 tahun. Namun kekayaannya mencapai US$ 1,4 miliar (sekitar Rp 12,6 triliun). Pada bulan Maret ini namanya tercantum dalam Top 10 New Billionaires in Asia 2011.
Sebenarnya pemuda kelahiran Tokyo, Jepang ini bukan pertama kali masuk daftar orang kaya versi majalah Forbes. Sebelumnya ia juga terdaftar di urutan kedua World's Second-Youngest Self-Made Billionaire di belakang pendiri Facebook, Mark Zuckerberg. Daftar ini menunjukkan kalau Tanaka (dan juga Mark Zuckerberg) mendapatkan kekayaannya bukan dari warisan orangtuanya melainkan hasil usaha sendiri.
Tanaka boleh dibilang "Mark Zuckerberg" versi Asia. Seperti juga Mark, ia juga sukses menjadi pebisnis karena mengembangkan website jejaring sosial bernama Gree.
Awal kariernya dimulai saat ia bekerja di Sony Communication Network Corporation selepas menyelesaikan sekolahnya di Fakultas Hukum Nihon University tahun 1999. Tahun 2002, ia pindah ke Rakuten. Inc, sebuah website belajar online. Dari sinilah ia belajar bisnis internet.
Tahun 2004 ia memutuskan keluar dari Rakuten untuk mendirikan Gree (http://www.gree.co.jp), sebuah website jejaring sosial. Meski sama-sama website jejaring sosial, Gree berbeda konsep dengan Facebook atau website jejaring sosial di Jepang lainnya. Gree lebih menekankan pada jejaring permainan sosial. "Itu karena orang Jepang suka memainkan games," kata Tanaka.
Ini menunjukkan ia cukup jeli membidik pasar. Hal inilah yang membuat Gree langsung diserbu. Tak perlu sampai sebulan sudah mendapatkan sejuta member. Tak hanya itu, para member itu juga mau membayar pakaian virtual - satu fasilitas di website itu - untuk berpartisipasi di jejaring buatannya. Dari sinilah, antara lain, pendapatannya ia kumpulkan.
Tahun 2006 Gree "go public" dengan menawarkan 51% sahamnya ke pasar modal. Tahun 2009, harga sahamnya melonjak beberapa kali lipat. Dari 51% saham milik publik yang pada tahun 2008 nilainya hanya US$ 170 juta, setahun kemudian nilainya sudah mencapai US$ 1,6 miliar.
Dengan prestasi perusahaan itulah Forbes menobatkan Tanaka menjadi anak muda terkaya Asia tahun 2010 dan 2011.
Sumber : andriewongso
Sabtu, Maret 26, 2011 |
Boneka Cantik yang Tak Sadar Kecantikannya
Kesempurnaan adalah sesuatu yang relatif. Dengan memperbesar rasa syukur, kita akan memperoleh "kesempurnaan" yang hakiki.
Pada sebuah desa yang aman dan damai, ada seorang pembuat boneka yang sangat terkenal. Dengan sentuhan tangannya, boneka-boneka yang dibuat seolah-olah bisa hidup. Sebab, ia selalu membuat boneka dengan hati dan perasaannya. Tak heran, setiap boneka yang dibuatnya, selalu saja jadi rebutan untuk dibeli orang.
Seiring dengan berjalannya waktu, sang pembuat boneka pun mulai menua. Ia merasa, inilah saatnya membuat karya terakhir sebelum ajal menjemput. Untuk itu, ia pun segera bersiap-siap membuat boneka terbaik yang bisa dibuatnya.
Bahan-bahan terbaik pun dikumpulkannya. Kali ini, ia bertekad membuat boneka perempuan tercantik yang tak ada bandingannya. Maka, setiap hari, setiap waktu, sang pembuat boneka pun hanya berkutat untuk terus memperbaiki karyanya.
Rambut bonekanya dibuat berwarna hitam seperti putri cantik dari kerajaan. Matanya dibuat berwarna gelap dengan sorot tajam menyenangkan siapa saja yang memandang. Alisnya dibuat lentik sehingga setiap yang melirik akan dibuat terpesona. Tangan dan jemari dibentuk seindah mungkin karena pembuat boneka berharap boneka itu bisa menemani dan merangkul siapa saja yang beruntung memilikinya. Tubuhnya pun dibuat dengan lekukan tubuh perempuan cantik sehingga bisa jadi kebanggaan siapa saja.
Sekian lama membuat boneka yang akan jadi karya terakhir, si pembuat boneka pun akhirnya puas. Ia merasa, sudah membuat boneka sempurna yang akan jadi peninggalan terbaik karyanya. Ditimangnya boneka itu dengan penuh sayang, seperti anaknya sendiri.
Setelah puas menimang, si pembuat boneka membawa boneka itu ke depan cermin untuk semakin melihat kesempurnaannya. Ia pun berkata. "Hai boneka cantik. Lihatlah dirimu. Engkau pasti akan jadi boneka yang bisa membawa senyum dan tawa bahagia karena keelokanmu," ucapnya.
Namun, tiba-tiba, boneka itu seolah-olah berkata. "Ah, aku tidak cantik! Lihatlah, rambutku hitam. Padahal aku ingin punya rambut pirang nan menawan. Mataku gelap. Padahal aku ingin punya mata hijau seperti indahnya pepohonan. Aku juga tak suka bentuk tubuhku yang terlalu kurus. Aku ingin tubuhkulebih berisi sehingga bisa menawan hati!"
Si pembuat boneka pun jadi sedih mendengar keluhan ciptaannya. Maka, ia pun mencampakkan begitu saja karya yang tadi sangat dipujanya. Sehingga, boneka itu pun teronggok begitu saja dan lama-kelamaan dilupakan oleh pembuatnya. Boneka yang tadinya ingin dijadikan karya terbaik, kini telah jadi benda yang tak berarti apa-apa.
Pembaca yang luar biasa,
Kita kadang tak pernah puas dengan apa yang sudah kita dapat. Sibuk memikirkan apa yang belum dimiliki, dan lupa bersyukur dengan apa yang sudah didapatkan. Sehingga, tanpa sadar, apa yang sudah didapat, lama-lama justru akan berkurang atau bahkan hilang.
Padahal, Tuhan sebagai Sang Maha Pencipta, telah memberikan kesempurnaan yang tiada tara bagi kita. Hanya saja, sering kali kita justru terfokus pada kekurangan yang dimiliki. Tak jarang, kita mengutuki mengapa tercipta begini, mengapa kurang begitu. Sehingga, kita lupa, bahwa kita bisa hidup saja sudah merupakan anugerah tak ternilai yang diberikan Ilahi.
Dengan selalu berfokus pada kekurangan dan keinginan untuk memiliki apa yang belum dipunyai, kadang menjebak kita pada nafsu tak terkendali. Akibatnya, sering kali kita justru terjerumus pada tekad tak berkesudahan yang menguras tenaga dan energi. Sudah kaya, ingin lebih kaya lagi. Sudah punya segalanya, masih ingin lebih banyak lagi. Sudah berkuasa sedemikian rupa, ingin memperluas kekuasaannya lagi. Sudah punya jabatan, ingin terus mengoleksi kedudukan lebih banyak lagi. Begitu seterusnya sehingga ketamakan akhirnya malah menenggelamkan diri sendiri.
Tak salah memang, jika ingin mendapat sesuatu yang lebih baik. Tak salah juga jika kita ingin mencapai sukses yang lebih tinggi. Hanya saja, jangan melupakan apa yang sudah diperoleh. Sehingga, saat mengejar yang lebih tinggi, cenderung melakukan apa saja. Akibatnya, sikut sana, sikut sini.
Sebelum semua hal tersebut terjadi, mari kita mengalihkan fokus pada apa yang sudah dimiliki. Kita tingkatkan rasa syukur dengan memaksimalkan potensi dan apa saja yang ada pada diri saat ini. Jangan iri saat orang punya sesuatu yang lebih. Tapi, irilah jika kita tak mampu memaksimalkan waktu untuk memperbaiki diri. Jangan dengki saat melihat orang lebih baik. Tapi, dengkilah saat kita ingin lebih tinggi namun melakukan hal-hal yang kurang terpuji.
Mari, buka mata dan buka hati. Kita telah diciptakan dengan berjuta kebaikan dan potensi. Sebab, ada banyak hal yang patut disyukuri. Dengan memperbesar rasa syukur, kita akan mendapatkan kebahagiaan sejati. Sehingga, kita akan jadi "boneka" cantik yang bukan hanya cantik di luar, tapi juga dari dalam diri.
Sumber : andriewongso
Sabtu, Maret 26, 2011 |
The Real Mindset for Health
Berikut ini adalah cara untuk membangun kebiasaan-kebiasaan baru yang membuat kita bisa menjalankan gaya hidup ini dengan hasil yang lebih baik dan konsisten.
1. Yakini bahwa kebiasaan berbeda yang baru PASTI membawa hasil yang berbeda yang baru.
Apabila kebiasaan2 baru itu dirasakan sulit, itu karena kita memilih untuk fokus pada sulitnya kebiasaan tersebut. Arahkan fokus pada nikmatnya hasil yang diraih.
2. Kebiasaan-kebiasaan sehat ini adalah untuk dijalankan seumur hidup.
Nikmatilah setiap prosesnya. Yakinlah bahwa perubahan ini bukan pengorbanan, tetapi kemenangan. Justru dengan terus-menerus berkutat dalam perangkap kenikmatan nafsu makan dan menganggap perubahan sebagai pengorbananlah yang akan membawa kita ke pengorbanan terbesar, yaitu kualitas hidup yang buruk, kuantitas hidup yang lebih pendek, kematian yang lambat penuh penderitaan, dan duka bagi orang-orang yang kita kasihi.
3. Just do it, NOW!
Hilangkan pikiran-pikiran negatif seperti komplain, pembenaran, penudingan. Semua itu hanya akan membuat diri kita 'menerima diri kita apa adanya' sehingga muncul alasan-alasan kuat mengapa kita tidak perlu melakukan perubahan ke hidup yang lebih sehat. Memikirkan hal-hal negatif dan pembuatan alasan-alasan tersebut dijamin lebih melelahkan daripada melakukan apa yang bisa dilakukan saat ini juga. Ada pepatah mengatakan, "The hardest part is usually thinking about it. Stop thinking and start doing!"
"Hanya melalui aksi, muncul kebiasaan. Hanya melalui kebiasaan, muncul kemahiran-keluarbiasaan-kedahsyatan."
Ketiga prinsip di atas tentunya harus dilakukan bersamaan dengan hal berikut:
- Berhentilah dari merokok, tidur tidak teratur, konsumsi alkohol, dan atau narkoba.
- Kurangi / batasi: minyak, gorengan, lemak, santan, gula pasir, tepung, nasi, kentang, mie, bihun, kwetiauw, ketan.
- Makanlah lebih banyak sayur dan protein, juga buah.
- Tata kembali hidup dengan PERSIAPAN. Success loves preparation.
Stay strong & healthy!
Ade Rai
Sumber : andriewongso
Kamis, Maret 24, 2011 |


