Gowes Pulang Kampung (Malang - Probolinggo)
Pada hari Selasa, 19 Juli 2011 Saya pulang kampung menuju Probolinggo dengan sepeda kesayangan. Jarak yang harus ditempuh adalah 70 km. Berikut ceritanya.
Itu tadi cerita saya sewaktu menuju Probolinggo. Berikut ini adalah cerita ketika pulang dari Probolinggo menuju Malang.
Sekian tulisan dan dokumen saya tentang perjalanan dari Malang - Probolinggo (PP). Semoga menginspirasi pembaca sekalian untuk lebih semangat dalam mengayuh sepeda. Salam gowes.
Jumat, Juli 22, 2011 |
Kram, Mengatasi dan Mencegahnya
Kram adalah 'musibah' yang sering terjadi ketika berolahraga. Kenapa saya menyebutnya musibah? Itu karena kram sangat mengganggu ketika yang diserangnya sedang asyik berkegiatan. Sebagai contoh, kemarin waktu saya bersepeda tiba-tiba saja kram. Padahal tidak ada aktivitas yang berlebihan selama gowes. Untuk itulah saya menulis artikel ini agar pembaca sekalian mengerti tentang bagaimana kram dan cara mengatasinya.
KRAM TELAPAK KAKI
Cari tempat duduk atau tempat bersandar. Lepas alas kaki, angkat telapak kaki ke pangkuan. Jangan membungkuk (bisa menekan perut). Perhatikan arah tekanan otot ketika kram. Bila kram mengakibatkan telapak kaki menguncup, gunakan tangan secara perlahan untuk menekan jemari kaki ke arah atas hingga membuka kembali. Bila kram sudah reda, pijat telapak kaki agar aliran darah lancar kembali. Kram mengakibatkan otot memendek. Penekanan ke arah berlawanan membantu untuk memanjangkan otot kembali. Lakukan secara perlahan, Karena gerakan paksa atau tiba2 beresiko merobek serabut otot.
KRAM BETIS
Segera duduk dan sandarkan tubuh ke dinding. Serangan kram biasanya mengakibatkan lutut cenderung menekuk. Karenanya, secara perlahan , luruskan kembali lutut dengan bantuan tangan. Jika lutut sudah lurus kembali, pijatlah bagian betis untuk melancarkan aliran darah. Kemudian lakukan gerakan peregangan pada kaki, termasuk telapak kaki. bila kram sudah reda, usahakan untuk beristirahat dulu selama beberapa menit sebelum beraktivitas kembali. Hindari penggunaan sepatu bertumit tinggi, karena dapat mengakibatkan otot betis memendek ketika sedang berjalan. Dalam hitungan jam, kondisi itu dapat menimbulkan serangan nyeri dan kram.
KRAM PAHA
Cari tempat dan kursi untuk menyandarkan kaki ke depan. Lebih baik bila dalam posisi berbaring miring. Untuk serangan kram di otot paha belakang, lururskan lutut dan angkat kaki ke depan secara perlahan. Untuk serangan kram di otot paha depan, tekuk lutut perlahan dengan menarik tungkai bawah hingga tegangan di paha menghilang. Pijat daerah yang sakit bila kram reda. Pijatan setelah kram dapat melancarkan peredaran darah. Sambil memijat, oleskan balsam/ salep pereda nyeri otot untuk memecah timbunan asam laktat penyebab rasa sakit dengan mengalirkannya melalui pembuluh darah.
KRAM PERUT
Kram perut adalah akibat setelah melakukan aktivitas fisik tertentu. Atasi kram dengan berbaring di atas permukaan yang empuk. Letakkan bantal atau lipatan kain di bagian pinggang agar dapat meregangkan daerah perut secara perlahan. Perbanyak Istirahat.
KRAM RAHANG
Pastikan yang dirasakan adalah kram, bukannya dislokasi atau pergeseran tulang rahang. Kram terjadi akibat dislokasi otot, sedangkan dislokasi tulang rahang timbul sebagai akibat dari otot rahang yang lemah. Jika kram, lakukan terapi serupa dengan cara mengatasi kram pada anggota tubuh lainnya. Yaitu dengan melakukan gerakan berlawanan dengan arah serangan kram. Bila kram mengakibatkan rahang tidak bisa terbuka, perlahan lakukan gerakan membuka rahang. Setelah serangan kram reda, pijat daerah rahang untuk melancarkan aliran darah. Sambil bekerja lakukanlah gerakan senam muka untuk melenturkan otot-otot wajah. Caranya lakukan gerakan membentuk huruf A, I, U, E, O dengan bibir. Lalu dengan bantuan cermin, gerakkan otot wajah membentuk berbagai macam ekspresi.
PENYEBAB KRAM
Hindari gerakan pemicu. Jangan berdiri/ duduk terlalu lama. Stretching secara teratur. Banyak minum. Konsultasikan kepada dokter apakah anda perlu mengkonsumsi suplemen zat besi, kalsium, dan magnesium (karena ketiganya dapat mencegah kram).
Sumber : Indonesian Goweser Community (FB)
Rabu, Juli 20, 2011 |
Kelirumologi Tentang Bike to Work (B2W)
Saya baru saja menerima note dari FB teman yang isinya pembenaran mengenai persepsi Komunitas Bike to Work di Indonesia. Bagi yang kurang mengerti bagaimana sebetulnya prinsip B2W, bisa membacanya sampai habis.
Beberapa tahun mencermati dan mencoba ikut didalam pengembangan b2w-indonesia, saya menemukan hal-hal keliru diseputar b2w-indonesia (ini menurut pendapat saya) :
“Ada anggapan bahwa b2w-indonesia adalah klub sepeda, sehingga kalau sudah punya klub sepeda gak perlu lagi ikut-ikut b2w”, hal yang wajar jika ada anggapan ini tapi tetap saja ini keliru, b2w-indonesia adalah sebuah komunitas yang berbentuk organisasi resmi yang mewadahi gerakan moral untuk menjadikan sepeda sebagai alat transportasi alternative, secara organisasi b2w-indonesia tidak membawahi klub/organisasi lainnya, karena berupa “gerakan moral” maka struktur organisasi b2w-indonesia hanya mengenal b2w-indonesia (pengurus pusat) kemudian b2w-wilayah kemudian rombongan, supaya ada keleluasaan bagi setiap individu yang memiliki kesamaan pandangan terhadap visi misi b2w-indonesia (http://b2w-indonesia.or.id/tentang_kami) dapat bersama-sama mengembangkan gerakan moral ini dengan apapun jenis sepeda yang dimiliki, apapun klub/organisasi sepeda yang dimiliki atau tidak memiliki klub sepeda sekalipun,..dan bahkan b2w-indonesia mendorong tumbuh suburnya klub sepeda, sehingga kesimpulannya bahwa b2w-indonesia adalah sebuah organisasi gerakan moral yang “cair” dan kenapa sebaiknya satu wadah yang bernama b2w-indonesia didalam menjalankan gerakan moral tersebut ? saya kira kita semua tahu jawabannya, jikapun belum,..silahkan buka http://b2w-indonesia.or.id/bacanote/bersepeda_tunggal_ika#komentar
“Definisi Bike to Work adalah Bersepeda ke kantor”, ini keliru besar, kata “work” disini bukan berarti “kerja” tetapi bermakna lebih luas, yaitu “aktifitas” sehingga apapun aktifitasnya jika menggunakan sepeda sebagai sarana transportasinya, maka itu adalah bike to work (termasuk istri saya jika pergi kepasar hahahahahaaaaa)
“Bike to Work berada dibawah naungan Komite Sepeda Indonesia (KSI)”, sama sekali tidak, b2w-indonesia secara organisasi tidak pernah menyatakan dirinya berada dibawah naungan KSI ataupun organisasi lainnya termasuk partai politik, pun juga tidak membawahi organisasi lainnya, yang dilakukan b2w-indonesia adalah menganggap bahwa organisasi yang memiliki tujuan yang kurang lebih sama atau mau mendukung gerakan moral b2w-indonesia dianggap sebagai “partner/mitra” termasuk disini ISSI,KONI,institusi swasta, NGO, dll
“B2W-Indonesia itu hanya mau kerjasama dengan produsen,provider, vendor-vendor tertentu saja”. Hal ini juga keliru, b2w-indonesia tidak pernah menyatakan hal yang demikian, memang betul b2w-indonesia ada kerjasama dengan vendor-2 tertentu tetapi bukan berarti kerjasama ini mengikat selamanya, peluang sangat terbuka bagi vendor lain yang sejenis namun ada batasan-batasan yang harus disepakati bersama dan tentu saja juga harus melihat klausul kontrak kerjasama dengan vendor sebelumnya
“Untuk menjadi anggota b2w-indonesia harus memberikan iuran bulanan” tidak ada aturan khusus perihal ini, kalaupun ada iuran di b2w-wilayah inipun juga tidak mengikat tergantung kesepakatan anggota masing-masing wilayah, hampir semua wilayah tidak menerapkan aturan ini, lalu darimana dana aktifitas ? kawan-kawan pengurus baik di pusat maupun di wilayah cukup cerdas didalam menyiasatinya, diantaranya gandeng sponsor, penjualan merchandise, dan tentu saja “saweran” ketika ada event (ini jalan terakhir), namun demikian b2w-indonesia akan sangat berterima kasih apabila ada individu maupun institusi yang berkenan memberikan donasi. Naaaahh karena seringkali pihak sponsor selalu menanyakan jumlah anggota di suatu wilayah, maka ada baiknya individu yang merasa menjadi bagian dari b2w-indonesia berkenan mengisi formulir keanggotaan dan dijamin data akan disimpan rapi dan dipertanggungjawabkan oleh pengurus
“Memiliki sepeda mahal merupakan salah satu syarat menjadi anggota” dibanyak wilayah sering ditemukan anggapan demikian,..hhhmmm asal sepeda dan bisa digowes sudah cukup untuk menjadi anggota b2w-indonesia
Hanya sepeda MTB dan folding saja yang diakui di b2w-indonesia, wkwkwkwkwkwkkkkk keliru total, ada jargon baru (ide kreatif b2w-kudus),..”Bersepeda tunggal ika” berbeda-beda sepeda tetapi tetap ngonthel juga, makna dari jargon ini adalah apapun jenis sepedanya mari ber bike to work.
“Penjualan merchandise b2w-indonesia itu sama dengan penjualan yang dilakukan pedagang kaki lima” ini pandangan bodoh dari seseorang yang nggak ngerti b2w-indonesia (atau pura-pura nggak ngerti), sekali lagi bahwa b2w-indonesia adalah organisasi gerakan moral maka salah satu cara untuk menjalankan roda organisasi adalah dengan cara mencari dana melalui penjualan merchandise yang sering kali harus memanfaatkan berbagai event/moment, memang harus buka lapak tetapi bukan berarti ini sama dengan pedagang kaki lima
“Kalau menjadi panitia event b2w-indonesia akan dibayar” hahahahahahahaaaaaaa kalau memang demikian, saya sudah upgrade sepeda berkali-kali,…yang diperlukan oleh b2w-indonesia adalah individu-individu yang memiliki jiwa volunteer, kalaupun ada fee / uang lelah disuatu event itu tidak lebih dari upaya pengurus untuk mengganti biaya pribadi yang sudah dikeluarkan, misal : pulsa telepon, makan, akomodasi dll,.dan nilainyapun seringkali sungguh tidak sebanding bila diadu dengan pengorbanan waktu, biaya dan tenaga para individu tersebut (salam hormat dan penghargaan yang setinggi-tingginya untuk semua sahabat yang selama ini aktif mengembangkan gerakan b2w-indonesia dimanapun),…xixixixixxiiii malah lebih sering nggak dapet kan ?
“b2w-indonesia sekarang sudah komersil, sedikit-sedikit mesthi uang” ahaaaa,..pendapat ini beberapa kali “bersliweran” disekitar saya,.. sebuah hal yang sangat wajar karena pandangan ini muncul dari sebuah “kekeliruan” informasi, keliru ketika menerima informasi yang tidak lengkap (tidak utuh/sepotong), keliru ketika mendapatkan informasi dari “oknum” yang mencoba memanfaatkan b2w-indonesia (sebagai contoh : jika ingin mengajak tim saya (mengaku tim dari b2w) sebagai marshall fun bike maka harus menyediakan dana marshall sebesar 20 juta per event,….glek!!!, padahal seumur-umur b2w-indonesia tidak pernah “jualan” marshall), contoh diatas adalah hal nyata yang dilakukan seorang “oknum” . Sekali lagi bahwa organisasi ini memang memerlukan dana operasional, sehingga diperlukan cara-cara cerdas didalam mengelola manajemen keuangan organisasi termasuk didalamnya adalah sumber-sumber pendapatan dan kebijakan pengeluaran keuangan, namun bukan berarti dalam mencari dana akan melakukan hal seperti yang dilakukan oleh oknum diatas, naaaahhh jika saat ini melakukan berbagai terobosan dalam rangka mencari dana operasional apakah hal tersebut dianggap komersil ? kok rasanya keliru !!
Sumber : Note FB Teman
Selasa, Juni 28, 2011 |
#GowesJelajah Kebun Teh 25 Juni 2011
Pada posting kali ini, saya akan membagikan foto sewaktu mengikuti #GowesJelajah Kebun Teh (Malang) yang diadakan pada 25 Juni 2011. Selamat menikmati.
O iya, bagi yang ingin menikmati hampir dari semua foto #GowesJelajah Kebun Teh 25 Juni 2011 bisa melihatnya di galeri berikut ini.
Sekian cerita #GowesJelajah yang bisa saya bagikan. Mungkin lebih baik terlibat langsung daripada cuma membaca lewat blog saya. Daripada bengong, lebih baik Gowes men-Jelajah negeri ini. Salam Gowes.
Senin, Juni 27, 2011 |
#GowesJelajah Puncak Buring 24 Juni 2011
Dalam posting kali ini, saya Akan mem-posting kegiatan #GowesJelajah Puncak Buring yang diadakan pada tanggal 24 Juni 2011. Rombongan yang berjumlah 6 orang berangkat dari Universitas Brawijaya pada pukul 17.30. Kemudian menjemput 1 anggota lainnya di Alun-alun Kota Malang. Sehingga dimulailah cerita ini. Silahkan menyimak.
Sebenarnya masih banyak cerita yang tidak didokumentasikan. Bukankah lebih baik mendokumentasikannya dengan mata kepala sendiri? Maka dari itu, bergabunglah bersama #GowesJelajah Malang. Salam gowes.
Minggu, Juni 26, 2011 |
#GowesJelajah 22 Juni 2011
Kamis, Juni 23, 2011 |