'UGM Ngepit' sebagai Wujud Implementasi EfSD
Membaca artikel tentang kebijakan UGM dalam hal pelestarian lingkungan, sungguh membuat saya terinspirasi untuk menerapkannya juga di kampus Brawijaya tercinta. Tapi, apa kampus yang memiliki misi untuk menciptakan sarjana enterpreneur ini juga akan memperhatikan hal yang sama dengan kebijakan UGM? Siapa yang tahu, semoga birokrat Universitas Brawijaya tergugah hatinya ketika membaca artikel yang saya kutip langsung dari situs UGM
Wakil Rektor Senior Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat (WRS P3M) UGM, Prof. Dr. Retno Sunarminingsih, M.Sc., Apt., menyebutkan UGM saat ini tengah berupaya mengimplementasikan pendidikan untuk pengembangan berkelanjutan (Education for Sustainable Development-EfSD). Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menetapkan kebijakan pelarangan membawa kendaraan bermotor ke kampus bagi mahasiswa baru angkatan 2011.
Dengan adanya kebijakan tersebut, UGM telah meluncurkan layanan sepeda kampus 'UGM Ngepit' dengan menyediakan sebanyak 200 unit sepeda dan 20 rak sepeda sebagai alat transportasi dalam kampus. Stasiun sepeda kampus disediakan di lokasi-lokasi yang tidak terlalu jauh dari tempat perpindahan moda transportasi, tempat yang banyak dikunjungi mahasiswa, dan di beberapa kluster.
“UGM ingin menerapkan EfSD, salah satunya yakni dengan menetapkan kebijakan larangan membawa kendaraan bermotor ke kampus bagi mahasiswa baru. Langkah ini merupakan cara pembelajaran untuk mahasiswa tentang cara menghemat energi dan juga mengurangi polusi. Guna memfasilitasi transportasi mahasiswa di dalam kampus, UGM telah meluncurkan layanan UGM Ngepit dengan menyedikan 200 unit sepeda,” kata Retno, Selasa (16/8), pada acara silaturahmi Ramadan dengan wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan Kampus Gadjah Mada (Fortakgama) di Rumah Dinas Rektor UGM, Bulaksumur F-14.
Retno berharap gerakan bersepeda di lingkungan kampus UGM yang pada awalnya ditujukan bagi mahasiswa baru, implementasinya dapat meluas dan berkelanjutan. “Gerakan UGM Ngepit memang dilakukan secara bertahap, sebagai awal ditujukan untuk mahasiswa baru. Namun, ke depan harapannya gerakan bersepeda ini bisa meluas, tak hanya mahasiswa baru, tetapi juga seluruh civitas UGM,” terangnya.
Retno menambahkan UGM juga tengah giat menjalin jejaring kerja sama internasional untuk program sarjana dan pascasarjana. Selain itu, UGM juga mengembangkan Rumah Sakit Akademik (RSA), yang diharapkan tidak hanya dapat memberikan pelayanan kesehatan dan medis kepada masyarakat, tetapi juga sebagai rumah sakit pendidikan. “RSA ini harapannya juga sebagai tempat pembelajaran dan penelitian bagi mahasiswa,” imbuhnya. (Humas UGM/ika)
Mari berdoa bersama agar ke depannya semakin banyak yang perhatian dengan kondisi lingkungan kita. Semoga artikel tadi menginspirasi Anda untuk semakin mencintai Bumi. Sukses untuk kita semua. Salam Lestari.
Sumber : Situs UGM
Selasa, Agustus 23, 2011 |
Panduan Seafood Berdasarkan WWF
Sebagai upaya untuk meningkatkan permintaan nasional terhadap sustainable seafood, WWF mendorong konsumen untuk lebih selektif memilih hidangan laut. Salah satunya adalah melalui sosialisasi seafood guide, buku saku yang berisi panduan memilih hidangan laut yang berkelanjutan.
Panduan tersebut dibuat bukan untuk melarang atau membatasi konsumsi hidangan laut. Akan tetapi, Seafood Guide merupakan salah satu acuan untuk menikmati hidangan laut dengan lebih bertanggung jawab. Produk hidangan laut di Indonesia, juga di negara lain, terancam ketahanan, keamanan, dan keberlanjutannya akibat rusaknya ekosistem perikanan laut. Ancaman tersebut berasal dari praktik perikanan destruktif, penangkapan berlebih (overfishing), dan tangkapan sampingan (by-catch). Bahkan jika kondisi ini masih terus berlangsung, sejumlah ahli perikanan dunia memperkirakan bahwa di tahun 2048, warga dunia hanya hanya dapat mengkonsumsi ubur-ubur dan plankton karena habisnya stok ikan.
Permintaan tinggi terhadap berbagai jenis ikan karang seperti kakap, tuna, baronang, kepiting, udang hingga lobster membuat para nelayan melakukan segala cara untuk mendapatkan sumber daya laut tersebut dalam jumlah besar. Praktik perikanan destruktif pun dilakukan misalnya dengan menggunakan bom atau racun sianida. Cara penangkapan yang seperti ini merusak ekosistem perikanan, termasuk terumbu karang, yang berujung pada berkurangnya populasi ikan karang.
Melalui kampanye "Choose your seafood right" yang menggunakan seafood guide sebagai instrumen utama kampanye, WWF berusaha untuk mengenalkan gagasan "sustainable seafood" kepada konsumen dan mendorong mereka untuk memilih hidangan laut secara bijak. Dengan meningkatnya permintaan hidangan laut lestari, maka diharapkan pera pelaku industri perikanan akan berproduksi secara lebih efisien dan ramah lingkungan.
Mari kita lestarikan sumber daya laut..demi generasi yang akan datang dan laut lestari!
Sumber : WWF Indonesia
O iya, jika dokumen di atas masih kurang jelas, Anda bisa membacanya langsung disini.
Kamis, Juni 09, 2011 |